Mendengar kata live in, dapat di bayangkan suasana pedesaan yg asri dan masih belum tercemar dengan polusi seperti di kota, dingin, dan sejuk. Saya banyak merasakan pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya pada saat live in. Dari mulai tidur di triplek, tinggal di rumah berlantai tanah, sampai naik turun gunung dengan jalan kaki. Saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman saya tinggal di daerah pedesaan Tanjung, Kulon Progo, Yogyakarta. Mohon maaf bila kurang lengkap, karena hal ini saya alami lebih dari 1 tahun yang lalu.
Begini ceritanya..
Saat itu saya tinggal di desa Tanjung, di rumah Pak Parman, ia berprofesi sebagai seorang tukang bangunan. Dia mempunyai 1 orang istri, 1 orang anak, dan 1 orang bapak. Kegiatan yang saya lakukan setiap hari adalah membantunya bekerja membangun sebuah gapura. Pada waktu itu saya membantu mengangkat batu kali yang akan digunakan untuk pondasi gapura tersebut. Meskipun saya tidak di suruh untuk melakukan pekerjaan itu, namun karena saya tak enak hati, maka sayapun ikut bekerja membantunya. Batu itu sungguh berat.. dan jumlahnya pun tidak sedikit. Dan sayapun menyesal telah memutuskan untuk membantunya mengangkat batu kali itu. Karena memang melelahkan..
Sehari-hari di rumah yang sangat sederhana, juga dengan kehidupan yang sederhana. Namun, suasana kekeluargaan yang erat sangat saya rasakan disana. Betapa satu anggota keluarga dengan yang lainnya saling menyayangi dan mengasihi. Meskipun beda kampung, namun mereka saling mengenal satu dengan yang lainnya. Makanan pun di masak dengan sederahana, hanya memakai tungku kayu, dan bila mau menyalakannya butuh usaha ekstra, karena harus di tipu sedemikian kencangnya..
Rumah saya berdekatan dengan teman-teman yang lainnya, setiap hari berkumpul dan bercanda tawa, kami sangat menikmati keadaan itu.. seperti di saat liburan saja.. begitu menyenangkan dan menenangkan..
Pengalaman yang membuat saya terkenang adalah saat saya harus pulang meninggalkan desa tersebut. Dengan perasaan sedih yang mendalam, saya pulang dengan tangan penuh, bukan hampa. Karena mereka memberikan saya oleh-oleh khas di sana untuk di bawa pulang. Desa yang begitu indah dan penuh kenangan takkan terlupa selamanya dalam pikiranku. Bila ada kesempatan lagi, pasti saya akan berkunjung kesana lagi. Melepas rindu yang tertahan di benak saya..



